Komik Indonesia Masa Kini, di Mata Beng Rahadian

Bulan Mei 2015 lalu, ranah maya sempat riuh dengan tagar #KemanaKomikIndonesia, bahkan kemudian sempat pula muncul tagar #SaveKomikIndonesia. Tagar tersebut muncul seolah mempertanyakan eksistensi komik Indonesia masa kini, yang sempat mati suri dan belum bisa bangkit seperti masa kejayaannya. Selain itu juga ada yang mempertanyakan identitas komik Indonesia yang cenderung kebarat-baratan atau bahkan mirip manga jepang.

Bagaimana sebenarnya kondisi terkini jagad komik Indonesia? Benarkah komik Indonesia kehilangan identitas? Beng Rahadian, pendiri sekaligus pentolan Akademi Samali yang juga aktif sebagai editor Cendana Art Media, mencoba mendeskripsikan kondisi jagad komik Indonesia kontemporer, yang disebutnya “sedang indah-indahnya” dalam 10 poin berikut:

1. Komik Indonesia Penuh Keragaman Gaya
Jika ada yang bilang komik Indonesia dikuasai gaya manga saja, maka dia ketinggalan 10 tahun ke belakang. Betapa kini komik Indonesia diwarnai beragamnya gaya visual yang tumbuh secara bersamaan dan semuanya mendapat tempat, dari gaya yang paling populer seperti Manga, kartun dan realisme ala Eropa, Action (hero –heroan) Amerika, ekspresif gaya pribadi ala komik indie atau gaya diary, gaya awal perkembangan komik Indonesia era 70-80-an, bahkan gaya – gaya yang kita belum temukan padanannya (dari yang terlihat bakal bagus sampai yang masih (maaf) ancur, itu berkembang dan hadir bersamaan. Semua ikut hadir dan tumbuh membentuk kebudayaan yang penuh gaya. Ancur itu adalah (bisa jadi) bagian dari keragaman gaya.

2. Genre/Tema Komik di Indonesia Tak Kalah Beragamnya
Memang humor masih mendominasi, tapi kita tidak boleh menyepelekan munculnya genre lain seperti olah raga (sepak bola, tinju, bulu tangkis), detektif, horor (tentu), drama remaja, mitologi, sci-fi, jagoan (action hero), komik adaptasi/sinergi dengan film layar lebar, novel, cerpen, komik pendidikan, dakwah, bahkan politik. Komik genre humor pun kini banyak mengambil tema – tema yang spesifik seperti kuliner, binatang peliharaan, naskah penelitian hingga tema yang kontemplatif (filsafat).

Komik Dakwah Indonesia

Komik Si Bedil

3. Potensial Menjadi Media Ekspresi Populer Anak Muda Setelah Musik
Komik Indonesia potensial menjadi media ekspresi populer anak muda, setelah musik. Perhatikan dengan seksama saat anda bermain di media sosial (yang bukan hanya Facebook, sekali – kali jalan – jalan lah ke portal komik online, twitter dan Instagram, follow lah akun – akun yang jelas menggunakan nama komik, anda hanya perlu membayar koneksi internet saja),  hampir setiap hari selalu ada komikstrip baru dan itu gratisan, karya anak muda. Memang masih banyak yang bermain dalam bentuk strip dan humor, tapi so what? Itulah ekspresi mereka. Minimal itu menjadikan sebuah indikasi dalam kemajuan komik, mereka, anak – anak muda itu dengan sadar menggunakan komik untuk berkomunikasi, dari sekedar melucu, sampai nyinyir – nyiyiran. Dan satu lagi, komik – komik itu mendatangi anda kemanapun selama anda bisa connect ke internet. Kalau orang tua kita (ayah atau kakek) dahulu perlu berjalan mencari taman bacaan untuk sewa/baca komik yang katanya tersebar di mana-mana, sekarang taman bacaan itu ikut kemanapun kita pergi selama kita membawa gadget dengan koneksi internet.

Si Juki Karakter Komik Indonesia

Si Juki Anti Rokok

4. Dulu Komikus Mencari Penerbit, Sekarang Sebaliknya
Jika dulu komik Indonesia bekerja dalam moda “Publishing Centris”, sekarang berubah menjadi “Artist Centris”, dulu komikus mencari penerbit, sekarang sebaliknya. Ini menandakan posisi komikus bisa jadi lebih kuat ketimbang penerbitnya, apalagi komikus yang sudah sadar branding. Visi penerbitan konvensional yang mengandalkan oplah yang banyak, pembeli yang random dan distribusi toko buku  yang cenderung “arogan namun ringkih” perlu mengubah cara pandangnya, Posisi branding dan aktualisasi komikus penting untuk dinilai, membaca gejala yang terjadi saat ini, di mana mereka bisa eksis dan bertransaksi via medsos dan event, maka penerbit harus menimbang eksistensi mereka. Komikus ini memiliki fans/circle yang barangkali bisa lebih besar nilai ekonominya ketimbang sistem royalti yang ditawarkan – belum ditambahi dengan sistem editorial satu arah, komikus adalah partner kerja, bukan staff. Bahkan saat ini, buku di penerbitan hanya sebagai nilai tambah saja bagi seorang komikus (semacam portofolio). Bayangkan dalam satu event komikus yang membuka lapak artist alley di sebuah event bisa mendapat profit berlipat lipat melebihi dari profit royalti yang 3 bulan sekali (itu pun kalau lancar). Sehingga, pemikiran utopis untuk  menjual komik sebanyak2nya untuk masyarakat Indonesia perlu diubah. Sasar ceruk pasar.

5. Event yang Tak Pernah Lelah, Pengunjung yang Lelah Mengejar Event
Ini sedikit mengubah peta bahwa komik Indonesia depend on book store, Event komik meskipun belum spesifik mengubah peta distribusi, namun cobalah periksa kembali, dalam setahun bisa terlaksana 12 acara komik (baik khusus komik atau yang bergabung dengan popculture lainnya) tapi apakah itu penting di jaman sekarang? Kalau komikus bisa buka booth di event popculture dan punya nilai ekonomi, kenapa tidak? Inilah perubahan. Event, bahkan bukan hanya kelas komunitas atau kampus saja, atau sesekali event pemerintah, tapi franchise EO internasional sudah bermain di Indonesia, kalau kita masih menganggap remeh ini, maka jauh sekali kita tertinggal dalam pemikiran. Komikus kita bukan hanya mau berangkat lintas kota/propinsi untuk buka lapak, namun sampai ke luar negeri. Kalau mau diikuti, kita memang akan kelelahan mengejarnya. Pengunjung event hanya komunitas? Lihat saja PopCon (event lokal) 2014 ini dikunjungi 24 ribu orang yang membeli tiket. Ini industrinya anak muda.  Salah satu majalah komik remaja Re:On berhasil menggelar acara yang spesifik menggunakan brand majalah, beberapa minggu kemudian Akademi Samali menggelar pameran komik indie di tempat yang tak biasa untuk acara komik, namun mampu mendatangkan 200 pengunjung saat pembukaan dari kalangan anak muda, di saat yang sama komikus dari beberapa kota mendatangi Pasar Komik Bandung yang mendapat penghargaan sebagai acara kreatif paling populer di kotanya. Kalau ada yang nyinyir dengan nama mangafest, maka cobalah datangi bazaarnya, karya mereka beragam lho, bukan hanya yang bergaya manga dan mereka meskipun merayakan budaya Jepang, nyatanya masih orang Indonesia juga, bukankah kita juga senang jika kebudayaan Indonesia dirayakan di negeri orang? Gamelan, angklung dimainkan oleh orang luar negeri, bahkan musik dangdut digemari di Jepang, hingga dikompetisikan di Amerika. Inilah kebudayaan, bekerja dengan saling tukar menukar dan saling mempengaruhi satu sama lain.

Pameran Komik Indonesia

Pameran Retrospektif Komik Indie: 10 Tahun Akademi Samali

6. Tumbuhnya Komik di Institusi Pendidikan Formal
Komik sejak dulu telah ditulis dalam kajian ilmiah, sosilologi, sejarah, humaniora dan kebudayaan populer (culural studies), bahkan kini Indonesia punya budayawan yang bergelar doktor dengan desertasi soal komik, yakni Seno Gumira Ajidarma (UI) dan Alvanov Spalanzani (ITB). Sejak tahun 2000-an penelitian tentang komik dan karya Tugas Akhir komik (DKV terutama) mulai banyak diujikan sebagai syarat kelulusan mahasiswa, Kampus UI memiliki mata kuliah pilihan khusus komik, kampus DKV ITS pernah mewajibkan mahasiswa ilustrasi untuik mengikuti Kompetisi Komik Indonesia dan berprestasi, Di ISI Jogjakarta, komik telah menjadi mata kuliah yang diajarkan di dua jurusan sekaligus (Seni Murni dan Desain Komunikasi Visual), bahkan IKJ telah menjadikan komik menjadi mata kuliah major di juruan Desain Komunikasi Visual untuk peminatan Ilustrasi. Ini kemajuan pesat dalam dunia pendidikan formal.  Perlu dicatat pula, beberapa komikus Indonesia telah mengenyam pendidikan komik formal di akademi sequential Savannah US.

7. Kekuatan Komunitas yang Tidak Bisa Diremehkan
Komunitas sudah sejak dulu menjadi benteng terakhir pertahananan komik Indonesia (Seno GA, 2005), mereka bukan saja komunitas pelaku, namun juga kolektor, yang bermuara pada kegiatan arsip (pendokumentasian), penerbitan hingga apresiasi seperti pameran, award, karya – karya legendaris komikus senior diterbitkan kembali dalam kebaruan dan diwacanakan bersama karya – karya baru anak muda, komunitas menjadi muara pertemuan sesama komikus lintas generasi, gaya, cara kerja bahkan menjadi supply bagi penerbitan umum. Komunitas – komunitas ini tidak diam, mereka menggerakkan bahkan tersebar di berbagai kota. Salah satu pujian dari beberapa komikus luar negeri yang mengunjungi Indonesia adalah betapa mengagumkannya hubungan komikus dari berbagai macam kota ini, mereka saling tahu meskipun beberapa di antaranya jarang bahkan tidak pernah bertemu.

Kolektor sebagai Bagian Komunitas Komik Indonesia

Henry Ismono, Kolektor Komik Indonesia

8. Kontribusi Komikus Indonesia Dalam Pergaulan Internasional
Hampir setiap negara dia Asia Tenggara memiliki acara Comic Convention, dan beberapa tahun belakangan ini komikus Indonesia memiliki terlihat berpartisipasi, begitupun convention yang diselenggarakan di Jakarta, selalu dihadiri oleh beberapa komikus luar negeri, hal ini lambat laun akan menjadi biasa seiring terbukanya Masyarakat Ekonomi ASEAN. Kalau kita masih menganggap bahwa komik nasional itu steril dari “asing” maka kita buta sejarah. Sebab komik sejak awalnya pun tumbuh di Indonesia merupakan adaptasi medium dan konsep dari barat. Secara profesional komikus Indonesia banyak yang terlibat dalam penerbitan di Amerika dan Eropa, dari major hingga indie. Komikus Indonesia kerap memenangi kompetisi komik tingkat international, dari mulai Xeric award hingga silent manga award.

9. Menjadi Media Darling Untuk Liputan Budaya, Sosio Urban dan Pendidikan
Issue komik Indonesia masih menjadi “Media Darling” untuk liputan budaya, sosio-urban, edukasi dan pendidikan. Bukan hanya media online, namun cetak dan elektronik seolah selalu siap memberitakan perkembangan komik Indonesia, meski terkadang masih berwacana “kebangkitan komik, perlawanan komik lokal pada dominasi komik impor terjemahan” namun, setidaknya itu menunjukkan perhatian yang besar pada komik Indonesia, saya yakin beberapa pelaku utama komik di Indonesia pasti pernah menjadi subyek, nara sumber media – media ini. Merekalah corong komik Indonesia kini.

10. Komik Indonesia Mendapat Cinta yang Keras Kepala dari Para Pelakunya
Sekali lagi, komik Indonesia patut berbahagia mendapat cinta yang keras kepala dari para pelakunya. Banyak yang menganggap jualan komik di Indonesia susah, tapi masih saja ada penerbit yang mengeluarkan komik baru, masih saja ada anak – anak muda yang membuat komik, bahkan komikus senior kini tak kalah giatnya dengan anak muda untuk sama – sama melahirkan karya – karya baru. Masih ada orang – orang yang optimis dan memiliki cinta yang kelewat besar pada komik Indonesia. Jadi, akan sangat terpukul jika kita mendengar pertanyaan #kemanakomikIndonesia tanpa mau ikut menjelaskan keindahan ini. Memang setiap orang memiliki keindahannya masing – masing, namun ada keindahan alami yang lahir dari penilaian yang tulus dan kebesaran hati setiap manusia, sehingga kita dapat sepakat bahwa keindahan pun, bisa objektif.

Temukan keindahanmu sendiri. Setelah ketemu, mari kita syukuri.

Tokoh Komik Indonesia

Para Jagoan Komik Indonesia

Sumber tulisan dan gambar: bengrahadian.com, sijuki.com, @si_bedil, kompas.com, satulingkar.com, slideshare.net/tridamayantho

Add Comment