Menjadi Komikus di Indonesia, Peluang atau Tantangan?

Avengers: Age of Ultron, The Amazing Spiderman, The Dark Knight, Rurouni Kenshin: Kyoto Inferno, Boruto: Naruto the Movie, bila mendengar semua itu disebut, hal apa yang kamu pikirkan? Film bioskop? Cerita superhero? Atau komik? Benar sekali, semuanya adalah film bioskop tentang superhero yang diadaptasi dari komik. Dulu Indonesia pernah punya film Gundala. Sekarang?

Tak dipungkiri banyak sineas luar negeri yang berlomba-lomba untuk mengadaptasi tokoh-tokoh komik ke layar lebar. Besarnya peluang menjadi box office adalah alasan utama. Komik-komik yang cukup terkenal dan punya banyak penggemar, tentunya akan mengundang penonton apabila difilmkan. Itu dibuktikan dengan laris-manisnya tiket bioskop untuk film Avengers: Age of Ultron, bahkan film-film berikutnya sudah dipersiapkan, seperti Captain America: Civil War, Doctor Strange, X-Men Apocalypse dan masih banyak lagi.

Kumpulan Baju Besi Iron Man

Iron Man dari Avengers (ironman.wikia.com)

Berbicara industri komik di luar negeri, Amerika Serikat dan Jepang dapat dikatakan bersaing ketat menguasai pasar. Kesuksesan kedua negara tersebut menjadikan komik sebagai industri turut memberi andil terhadap kepopuleran komik-komik mereka. Pemerintah Jepang bahkan dengan serius menjadikan komik sebagai salah satu alat diplomasi budaya. Melalui Japan Foundation, Kementerian Luar Negeri Jepang meluncurkan program kerjasama mempublikasikan kebudayaan Jepang lewat manga dan anime ke berbagai negara di dunia.

Di Indonesia sendiri sayangnya bisnis komik belum menjadi industri yang bisa diandalkan. Mengutip Sweta Kartika yang diwawancarai CNN Indonesia saat event Popcon Asia 2015 Agustus lalu, komikus Grey & Jingga ini mengatakan, “Permasalahannya saat ini adalah komik kita selalu dijual dengan harga lebih mahal dari komik luar. Ini karena komik luar menjual lisensinya ke penerbit Indonesia dengan sangat murah sehingga harga jualnya pun murah.”

Sweta melanjutkan bahwa untuk bisa bersaing, pemerintah Indonesia harus turun tangan membantu dunia perkomikan nasional. Dia mencontohkan Malaysia yang melakukan subsidi harga kertas untuk produksi komik lokal. “Pemerintah harus benar-benar turun. Bisa dengan mengadakan program seperti PNPM tapi khusus komik,” lanjutnya saat diwawancara CNN Indonesia.

Lalu bila begitu keadaannya, apakah masa depan komik Indonesia adalah sebuah gambaran suram? Tentu bukan itu yang dimaksud Sweta Kartika. Lalu apa maksudnya? Berikut ulasannya.

Sejarah Komik Indonesia

Pernahkah kamu membaca atau minimal mendengar tentang Gundala, Maza, Aquanus, Godam, Si Buta Dari Gua Hantu, Wiro Sableng, Panji Tengkorak atau Sawung Kampret? Ya, mereka adalah jagoan-jagoan dalam komik Indonesia. Masa kehadiran mereka disebut-sebut sebagai masa keemasan atau kejayaan komik lokal. Walau industri komik ketika itu tidak sesolid dan semasif komik Amerika Serikat atau Jepang, tapi animo masyarakat untuk membaca dan memiliki komik-komik tersebut cukup tinggi. Bahkan Si Buta, Panji Tengkorak dan Gundala mampu menembus layar lebar, saat filmnya hadir di bioskop-bioskop pada medio tahun 70an hingga 80an.

Komik Indonesia Jadul, Gundala

Hasmi Berfoto Bersama Karyanya, Gundala Putra Petir (duniaku.net)

Namun setelah tahun 80an, industri komik Indonesia mengalami kemunduran. Salah satu pemicunya menurut Pak Hasmi, dalam acara Angkringan Komik yang diadakan Bentang Pustaka pada bulan Februari lalu, adalah kurangnya dukungan pemerintah. Akibat kurangnya dukungan tersebut, para komikus Indonesia tidak dapat bertahan ketika pasar pembaca komik dibanjiri oleh serbuan komik asing.

Kumpulan Komik Indonesia

Komik Indonesia Jadul (kaorinusantara.or.id)

Dengan produksi yang masif dan nilai lisensi yang murah, komik-komik asing itu dapat bersaing dalam harga. Sebagai contoh saat awal serbuan komik Jepang, manga Kung Fu Boy yang setebal 200 halaman, hanya berharga Rp 3000. Bandingkan dengan komik lokal seperti Petruk karya Tatang S yang saat itu harganya cukup terjangkau, Rp 1000, namun hanya memiliki jumlah halaman tak lebih dari 20.

Pasca reformasi, keran informasi terbuka lebih bebas, komik Indonesia pun perlahan bangkit. Para komikus lokal baik yang senior maupun pendatang baru berlomba-lomba menerbitkan karya mereka. Sebagian menerbitkan lewat penerbit besar, sebagian melakukan self-publishing, sebagiannya lagi menebar karya mereka lewat media sosial.

Komunitas-komunitas penggemar komik lokal pun terbentuk dan sering melakukan gathering lewat berbagai event. Di antara event yang cukup terkenal adalah:

PKAN

Pameran Komik dan Animasi Nasional (PKAN) dilaksanakan pertama kali pada tahun 1998 oleh Depdikbud kala itu. Event pertama tersebut kemudian diperingati rutin sebagai Hari Komik dan Animasi Nasional, yaitu setiap tanggal 12 Februari.

Menurut Rahayu Sutiarti Hidayat, ketua pelaksana tahun 2003, tujuan pelaksanaan PKAN secara rutin adalah untuk membangkitkan kesadaran masyarakat tentang komik Indonesia yang pernah berjaya dan membangkitkan industri komik serta animasi di Indonesia.

Pameran yang digelar setiap dua tahun ini terakhir dilaksanakan pada tahun 2007 di Malang, Jawa Timur. Setelah PKAN VI tersebut, event rutin dari pemerintah itu sempat terhenti. Baru pada tahun 2015, PKAN terlahir kembali dengan tajuk Festival Komik dan Animasi (FKA). Event pertama FKA diselenggarakan di Semarang.

Pakoban

Pakoban yang merupakan singkatan dari Pasar Komik Bandung adalah event yang diinisiasi oleh komunitas komik Bandung, Komikara. Pakoban yang diselenggarakan pertama kali pada tahun 2009 ini menawarkan konsep event yang dapat menjadi ajang jual-beli komik Indonesia.

BACA JUGA  Godam, Sosok Manusia Super dalam Komik Indonesia

Sempat tidak terselenggara antara tahun 2011 – 2013, Pakoban direncanakan akan menjadi kegiatan rutin di Bandung yang menampilkan acara seperti coaching clinic, sharing, talkshow, review dan launching komik Indonesia.

MangaFest

Disebut sebagai event manga tahunan pertama di Indonesia, MangaFest yang sudah diadakan sejak tahun 2010 ini merupakan program kerja Himpunan Mahasiswa Sastra Jepang UGM, Yogyakarta, yang menitikberatkan pada festival manga dan anime serta terbuka untuk umum.

MangaFest tidak hanya menyajikan hal-hal tentang manga dan anime saja, namun juga budaya dan berbagai jenis makanan dan minuman khas Jepang. Foodventure adalah bagian dari program MangaFest yang menyediakan makanan dan minuman, terutama kuliner Jepang.

Popcon Asia

Sesuai namanya, Popcon Asia adalah ajang yang merupakan tempat para pelaku industri kreatif berkumpul di Indonesia. Para animator, komikus, game developer, desainer mainan, serta produk kreatif lainnya memamerkan dan menjual karya mereka di sini. Selain karya lokal, karya dari negara lain juga hadir seperti dari Malaysia, Singapura bahkan Perancis.

Ajang tahunan yang telah berlangsung sejak 2012 ini, turut memanjakan pengunjung dengan booth-booth game developer yang mengizinkan siapa saja menjajal game terbaru mereka. Cocok buat kamu yang ingin menjajal beragam game gratis, eh bayar tiket masuk ding, he he.

Indonesia Comic-Con

Event ini mulanya adalah pagelaran Golden State Comic Book Convention yang diselenggarakan oleh komunitas penggemar komik San Diego, California, Amerika Serikat. Nama pagelaran kemudian dipopulerkan dengan Comic-Con International: San Diego, dimana orang-orang lebih sering menyebutnya sebagai Comic-Con.

Event ini merupakan konvensi tahunan untuk para penggemar pop culture, di dalamnya tidak hanya melibatkan para penggemar komik, namun juga para penggemar film, action figure dan game. Di Indonesia, Comic-Con pertama kali diselenggarakan pada tahun 2015 dan melihat animo masyarakat, sepertinya akan digelar rutin pada tahun-tahun berikutnya.

Potensi Komik Indonesia

Melihat banyaknya komunitas penggemar komik maupun animasi di Indonesia, tentunya komik produksi dalam negeri memiliki potensi yang sangat besar untuk bangkit. Selain kekuatan komunitas, mengutip Beng Rahadian dalam tulisannya “10 Keindahan Komik Indonesia Saat Ini”, masih ada 9 kekuatan lainnya dari komik Indonesia sebagai berikut:

  • Keragaman Gaya. Dapat dikatakan bahwa salah satu kekuatan komik Indonesia adalah mudahnya beradaptasi dengan gaya/style dari luar. Gaya superhero ala Amerika, gaya manga Jepang, gaya komik Eropa, bahkan gaya kreasi sendiri yang belum ada padanannya dalam literatur komik pun ada. Semua itu berkembang dan tumbuh membentuk warna komik Indonesia yang semarak. Keragaman gaya ini dapat membuat komik Indonesia diterima lebih banyak kalangan.
  • Keragaman Genre/Tema Cerita. Walau tema humor masih mendominasi, namun soal keragaman genre, Indonesia tidak kalah dengan komik Jepang yang terkenal dengan bermacam genre yang diusung dalam komik-komiknya. Selain tema action superhero, komik Indonesia juga memiliki genre sejarah, olahraga, horor, detektif, drama, sains, agama/dakwah, politik dan sebagainya.

    Pentolan Akademi Samali

    Beng Rahadian (bengrahadian.com)

  • Menjadi Media Ekspresi Anak Muda. Tak dapat dipungkiri bahwa di era digital seperti sekarang, generasi muda semakin mudah berekspresi. Meluapkan kegembiraan, melampiaskan kekesalan, berbagi curhatan, dapat mereka lakukan melalui berbagai macam media, salah satunya yang cukup populer, komik. Dibantu dengan bermacam aplikasi comic generator, mereka dengan sadar menggunakan komik untuk berkomunikasi, dari sekedar melucu, sampai nyinyir – nyiyiran. Beng Rahadian mengistilahkan dengan, “Kalau orang tua kita (ayah atau kakek) dahulu perlu berjalan mencari taman bacaan untuk sewa/baca komik yang katanya tersebar di mana-mana, sekarang taman bacaan itu ikut kemanapun kita pergi selama kita membawa gadget dengan koneksi internet.”
  • Komikus Kini Memiliki Nilai Tawar Lebih. Pernah baca komik Si Juki, Grey & Jingga, Si Bedil, Alisnaik, Mice atau The Real Suara Rumput Liar? Menurut kamu apakah komik-komik tersebut masih butuh diterbitkan menjadi buku agar bisa dikenal luas? Sepertinya tidak. Karena tanpa diterbitkan pun komik-komik tersebut sudah cukup populer dan dibaca banyak orang. Merekalah para komikus yang sadar branding. Mereka berkarya, eksis dan bertransaksi lewat medsos maupun event. Para komikus tersebut memiliki fans yang barangkali bisa lebih besar nilai ekonominya dibanding sistem royalti yang ditawarkan penerbit. Kalau dulu komikus mencari penerbit, di era medsos ini penerbitlah yang harus bergerilya mencari komikus.
  • Event Yang Membanjir. Tak berlebihan sepertinya bila disebut membanjir. Selain 5 event yang sudah disebut di atas, masih banyak event lain yang diselenggarakan oleh media, kampus, pemerintah daerah, atau komunitas komik. Dalam setahun mungkin bisa lebih dari 12 event yang terlaksana. Walau belum mengubah peta distribusi komik secara signifikan, event-event tersebut bermanfaat bagi para komikus untuk memperkenalkan dan menjual karya mereka.
  • Komik Telah Masuk Pendidikan Formal. Seno Gumira Ajidarma (UI) dan Alvanov Spalanzani (ITB) adalah 2 orang budayawan Indonesia yang mendapatkan gelar doktor lewat disertasinya tentang komik. Kampus UI memiliki mata kuliah pilihan khusus komik, di ISI Yogyakarta komik telah menjadi mata kuliah yang diajarkan di dua jurusan sekaligus, IKJ telah menjadikan komik sebagai mata kuliah utama di jurusan Desain Komunikasi Visual peminatan Ilustrasi. Fakta-fakta tersebut menunjukkan bagaimana komik telah berhasil masuk ke dalam pendidikan formal.
  • Jaringan Komikus Internasional. Hampir setiap negara di Asia Tenggara, juga sebagian Asia dan Eropa, memiliki event Comic Convention. Ini memudahkan komikus Indonesia untuk berinteraksi dan bertukar budaya dengan komikus negara lain. Dari hasil interaksi tersebut, komik Indonesia dapat dikenal di luar negeri, bahkan secara profesional komikus Indonesia dapat terlibat dalam penerbitan luar negeri, seperti misalnya Ardian Syaf yang dikontrak DC Comics.
  • Komik Telah Menjadi Media Darling. Walau wacana yang diangkat masih seputar “kebangkitan komik lokal” atau “perlawanan komik Indonesia terhadap dominasi komik impor”, namun isu komik Indonesia telah menjadi media darling untuk liputan budaya, sosio-urban, edukasi dan pendidikan. Media baik online maupun cetak dan elektronik, telah menjelma menjadi corong komik Indonesia masa kini.
  • Para Pelakunya Yang ‘Keras Kepala’. Beng Rahadian mengistilahkan ‘keras kepala’ kepada para pelaku komik yang tetap berjibaku dan berkarya dengan konsisten, walau banyak yang menganggap sebelah mata komik Indonesia. Mereka di antaranya adalah penerbit yang masih ngotot menerbitkan komik Indonesia, anak-anak muda yang semangatnya membuat komik dapat bersaing dengan para senior, juga para penggemar komik yang masih mau membeli komik Indonesia walau kadang harganya kurang ramah di kantong. Merekalah orang-orang optimis yang masih memiliki cinta kelewat besar pada komik Indonesia.

Setelah melihat potensi komik Indonesia di atas, tentunya dapat memunculkan rasa optimis untuk memantapkan diri menjadi komikus. Lalu setelah optimis dengan masa depan komik Indonesia, langkah apa sebaiknya yang harus dilakukan oleh seseorang untuk membuat komik? Dari mana sajakah penghasilan para komikus? Mari kita coba kupas lebih lanjut.

Menjadi Komikus, Dari Mana Duitnya?

Sebelum mengupas sumber penghasilan komikus, ada baiknya kita intip dulu langkah-langkah awal untuk menerbitkan komik berdasar pengalaman Seto Buje. Pengalamannya tertuang dalam wawancara eksklusif dengan komikus Si Bedil tersebut di sini.

Setelah mengintip langkah-langkahnya, sekarang kita bisa kupas sumber penghasilan para komikus. Menurut Dedy Dahlan dalam akun youtubenya, Dedy Dahlan’s Channel, komikus Indonesia dapat memperoleh penghasilan dari 5 hal berikut:

  1. Royalti Penerbit. Ini adalah penghasilan umum dari para komikus dan mungkin sebagian menjadikannya target utama. Walau jumlahnya terkadang kecil (bisa cuma 10% dari omzet), namun dengan diterbitkan menjadi buku, dapat menambah portofolio seorang komikus. Bagi sebagian komikus yang besar di medsos, mereka dapat menjual komiknya tanpa melalui penerbit, seperti yang pernah dilakukan oleh Arham Kendari.

    Arham Kendari Komikus Indonesia

    Komik Arham Kendari (twitter.com)

  2. Menjual Merchandise. Bila komiknya sudah mulai dikenal, biasanya para komikus akan mulai menawarkan merchandise untuk dimiliki para fans. Merchandise ini dapat berupa kaos, gantungan kunci, sticker atau bahkan helm bergambar karakter komik. Yang pasti, merchandise ini pastilah dijual secara terbatas dan eksklusif.
  3. Menjadi Ilustrator. Bila komik tak kunjung terbit, tak usah takut rezeki sulit. Keahlian gambar seorang komikus dapat digunakan untuk menjadi ilustrator. Majalah, buku, lembaga iklan dan masih banyak lagi pihak yang membutuhkan keahlian ilustrator. Ini dapat menjadi langkah awal sebelum menerbitkan komik sendiri.
  4. Menjadi Comic Artist. Sebelum memiliki komik sendiri, mungkin dapat memulai karir dengan menggambar komik orang lain, atau terlibat dalam produksi komik sebuah penerbit, baik dalam maupun luar negeri. Banyak komikus Amerika Serikat yang memulai karirnya dengan cara itu.
  5. Menjadi Dosen. Ini mungkin enggak banget bagi para komikus. Tapi memang begitu faktanya, di Indonesia menjadi dosen termasuk salah satu cara sebagian komikus untuk mempertahankan mimpi. Mimpi bikin komik sendiri sambil tetap bisa menafkahi keluarga. Sebagian komikus juga menjadi dosen untuk menyebarkan idealisme ngomik mereka ke para mahasiswa, atau untuk melakukan regenerasi komikus.

Di luar 5 hal yang disampaikan Dedy Dahlan di atas, sebenarnya masih ada 2 lagi penghasilan yang dapat diperoleh oleh para komikus.

Yang pertama, terutama bagi mereka yang sudah punya karya dan dipublikasikan di medsos, adalah iklan. Faza Meonk, komikus Si Juki, dalam wawancaranya dengan SWAOnline menyampaikan bahwa penghasilan dia dari iklan yang dipasang dalam komiknya di medsos bisa mencapai 7 – 10 juta rupiah per halaman. “Kalau dicetak lebih mahal, satu halaman bisa mencapai Rp 25 juta karena kami sharing dengan penerbit juga,” tambahnya.

Yang kedua adalah hak film/sinetron. Untuk yang ini, mungkin masih jauh bila dibandingkan dengan Amerika Serikat dan Jepang, namun peluangnya sangat besar. Tercatat Si Buta Dari Gua Hantu, Panji Tengkorak dan Gundala pernah berhasil menembus layar lebar. Si Buta juga berhasil diproduksi untuk serial televisi, bersama Wiro Sableng dan Sawung Kampret. Tahun 2016 nanti rencananya karakter komik Indonesia Valentine, Volt dan Gundala akan tayang di bioskop. Valentine sudah muncul trailernya, semoga Volt dan Gundala segera menyusul.

Jadi apakah kamu masih berpikir bahwa masa depan komik Indonesia adalah sebuah gambaran suram? Semoga tidak ya. Karena meminjam istilah Beng Rahadian: komik Indonesia saat ini sedang indah-indahnya.

One Response

  1. aphelion April 1, 2016

Add Comment