Manga Jepang, Komik Amerika dan Genre Homoseksual

Membahas dunia komik dan animasi, tentunya tidak bisa tanpa membahas dua kubu yang saling adu kuat di dalamnya, manga jepang dan komik amerika. Di Indonesia sendiri sebenarnya masih ada komik eropa (Tintin, Smurf, dsb) dan manhua hongkong (Oriental Heroes/Tiger Wong, Fung Wan/Wind and Cloud, dsb) yang juga turut meramaikan pasar, namun masih kalah pamor dibanding manga jepang dan komik amerika. Di antara manga jepang dan komik amerika, keduanya punya ciri khas masing-masing yang membuatnya diminati lebih banyak penikmat komik. Ciri khas apakah itu? Simak 6 ciri khas berikut:

1. Desain Karakter

Perbedaan Desain Cewek Komik Jepang

Karakter Manga Perempuan (wikimedia.org)

Manga jepang biasanya memiliki desain karakter dengan mata yang sangat lonjong dan besar, terutama untuk tokoh perempuan. Karakter mata tersebut merupakan inspirasi dari seorang Osamu Tezuka, Bapak Komik Jepang.

Selain itu gambar karakter terlihat sangat halus dan kadang tidak terlalu detil kecuali untuk beberapa mangaka (komikus jepang) seperti misalnya Takehiko Inoue. Lalu untuk menggambarkan perasaan karakternya, manga kadang menampilkan efek bunga pada background untuk menunjukkan perasaan senang, efek balon ingus yang menunjukkan karakter sedang tidur, efek api membara yang menunjukkan semangat, serta berbagai efek lainnya.

Sedangkan komik amerika biasanya memiliki desain karakter lebih realis dengan bentuk fisik yang lebih terlihat nyata dan menyerupai fisik manusia. Gambar karakter terlihat lebih kasar dan penuh detil, lalu untuk menggambarkan perasaan karakternya, komikus amerika lebih sering menggunakan efek warna seperti merah untuk marah atau semangat, hitam untuk sedih, juga kadang perasaan ditunjukkan lewat ekspresi wajah karakter secara detil.

2. Genre Cerita

Manga jepang memiliki genre cerita lebih beragam dibanding komik amerika. Bila komik amerika lebih didominasi oleh kisah superhero, manga jepang memiliki ragam variasi genre yang sama-sama diminati seperti komik tentang olahraga tenis (Prince of Tennis), memasak (Yakitate!! Japan), kesehatan (GodHand Teru), bahkan komik tentang homoseksual dan hubungan incest pun ada.

Manga bergenre Tenis

Prince of Tennis (comicvine.com)

3. Kecepatan Alur Cerita

Perbedaan budaya kerja para mangaka/komikus turut memberi pengaruh dalam kecepatan alur cerita. Mangaka jepang yang memiliki deadline lebih longgar, membuat alur cerita manganya berjalan lebih lambat dibanding komik amerika. Walau lebih lambat, manga jepang mengenal istilah tamat, yang sepertinya tidak ada dalam kamus komik amerika, terutama buatan DC dan Marvel. Contoh Naruto yang tamat pada chapter 700 (setelah 15 tahun), walaupun kemudian ada kelanjutan kisahnya namun Kishimoto (mangaka Naruto) berencana membuatnya dalam judul baru: Boruto. Bandingkan dengan Spiderman misalnya, atau Superman yang kisahnya masih berlanjut sejak tahun 1938.

Komik Action Amerika

Superman tahun 1938 (comicbookmovie.com)

4. Penempatan Frame/Panel Halaman

Little Jakarta dalam Komik Amerika

Batgirl dan Little Jakarta (erabaca.com)

Untuk penempatan frame/panel halaman, manga lebih sering menggunakan cara yang sinematik, urut seperti film. Satu halaman rata-rata memuat 6 panel yang gambarnya berurutan dari kanan ke kiri. Garis panelnya pun tegas, memisahkan tiap urutan cerita. Berbeda dengan komik-komik superhero amerika yang lebih cenderung seperti graphic novel, ketika gambar adalah murni ilustrasi dari teksnya dan terkadang tidak memiliki garis panel yang tegas dalam satu halaman.

BACA JUGA  Adakah Tokoh Komik Marvel yang Dapat Menghancurkan Cakar Wolverine?

5. Desain dan Pewarnaan

Secara desain, manga umumnya berukuran lebih kecil dibanding komik. Manga berukuran seperti buku diary sedangkan komik seukuran kertas A4. Tebalnya pun berbeda, manga biasanya lebih tebal dan bisa mencapai lebih dari 100 halaman, sedangkan komik biasanya di bawah 50 halaman. Untuk pewarnaan, manga lebih minim warna dibanding komik. Bila kebanyakan komik amerika memiliki halaman yang full colour, manga jepang mayoritas halamannya hitam-putih.

6. Hubungan Karakter dengan Komikusnya

Di jepang, karakter manga biasanya hanya dibuat oleh satu komikus yang dibantu para asistennya. Naruto identik dengan Masashi Kishimoto, Slam Dunk identik dengan Takehiko Inoue, One Piece identik dengan Eiichiro Oda atau Dragon Ball yang identik dengan Akira Toriyama. Sedangkan di amerika, karakter komik bisa digambar oleh berbagai komikus sehingga menghasilkan artwork yang berbeda untuk setiap edisinya. Contohnya Spiderman yang pernah digambar oleh Steve Ditko, Mark Bagley, Ross Andru dan yang cukup dikenal di Indonesia, Todd McFarlane. Selain keempat nama tersebut masih banyak lagi komikus yang pernah tercatat menggambar Spiderman. Superman dan Batman sendiri juga pernah digambar oleh komikus Indonesia, Ardian Syaf.

Komik Spiderman Torment

Spiderman versi McFarlane (aminoapps.com)

Demikianlah perbedaan dan ciri khas dari manga jepang dan komik amerika. Komikus Indonesia sendiri banyak yang terinspirasi dari ciri khas keduanya. Salah satunya adalah Hasmi, pembuat karakter superhero asli Indonesia, Gundala.

Sumber tulisan: kapanlagi.com, wikipedia

Add Comment